Menyatakan raja yang keempat dalam Luhak Rokan, yaitu bergelar Soetan Sepedas Padi keponakan dari Soetan Panglima Dalam di Koto Sembahjang Tinggi.

Syahdan adapun di belakang Soetan Panglima Dalam telah mangkat, maka mufakatlah orang besar-besar di Koto Sembahjang Tinggi serta hamba rakyat sekaliannya, hendak mendirikan raja, akan ganti Soetan Panglima Dalam. Waktu itu adalah satu anaknya bergelar Tengkoe Panglima Raja dan satu keponakannya bernama Sipadi.  Jadi dipilih antara anak dan kemenakan, sekalian orang tua-tua dan orang besar – besar banyak yang memilih kemenakan Soetan Panglima Dalam akan dijadikan raja.

Maka Tengkoe Panglima Raja tiada panjang bicara, sebab ia berkawin dengan adik Sipadi. Dalam hal yang demikian putusan mufakat orang Koto Sembahjang Tinggi, maka di angkat Sipadi menjadi raja di Koto Sembahjang Tinggi dengan bergelar Soetan Sepedas Padi.

Adapun Soetan Sepedas Padi terlalu gagah benar dan selalu mengamuk dan menyamun dan mengalahkan beberapa kampung, maksudnya hendak mengambil harta orang di kampung itu. Adalah kelakuannya selaku orang merampok.  Apalagi orang disitu pada masa itu belum beragama Islam betul sebagai sekarang ini, hanyalah adat secara Melayu pada zaman itu sahaja.

Adapun saudara yang perempuan dari Soetan Sepedas Padi yang kawin dengan anak Soetan Panglima Dalam, maka mendapat anak seorang laki-laki bernama Sialam, yaitu keponakan dari anak Soetan Sepedas Padi.

Sahdan telah berapa lamanya Soetan Sepedas Padi memerintah di Kota Sembahjang Tinggi, maka datanglah orang keramat, kabarnya bangsa Arab, datang dari Aceh bergelar Soetan Harimau, lagi beragama Islam. Adapun Soetan Harimau datang itu kabarnya dua bersaudara sama laki-laki. Yang tuanya bergelar Soetan Djanggoet, itulah yang ke Rokan Kanan yang meng-Islam-kan orang Rokan Kanan. Dan yang mudanya itulah Soetan Harimau yang masuk ke Rokan Kiri, yang meng-Islam-kan orang Rokan Kiri.

Maka adalah datangnya itu dari Bagan Api-api, sepanjang kabar orang tua-tua setelah keduanya sampai pada Kualo Sako yaitu pertemuan sungai Rokan Kiri dan sungai Rokan Kanan, maka keduanyapun bermufakat disitu, siapa yang akan masuk ke Rokan Kanan dan siapa yang akan masuk ke Rokan Kiri. Kata sahibul hikayat maka ditimbanglah air Rokan Kiri dan Kanan itu. Maka beratlah air Rokan  Kiri. Jadi kata Soetan  Djanggoet, Soetan Harimau-lah yang akan masuk ke Rokan Kiri. Adapun Soetan Harimau mudik itu, ialah  singgah-singgah dimana kampung nan enam sekarng, lalu meninggalkan enam kelamin temannya disitu, itulah asal orang Kampung Nan Enam sekarang. Kemudian mudik juga Soetan Harimau, lalu singgah di seberang membuat tempat sembahyang disitu. Sudah itu Soetan Harimau-pun mudik juga sehingga Koto Sembahjang Tinggi, lalu menghadap kepada Soetan Sepedas Padi.

Maka Soetan Harimau-pun tinggallah bersahabat dengan Soetan Sepedas Padi di Koto Sembahjang Tinggi

Arkian maka setelah setahun dua tahun Soetan Harimau tinggal di Koto Sembahjang Tinggi bersama Soetan Sepedas Padi dan Soetan Harimau-pun terlalu homat kepada Soetan Sepedas Padi. Oleh sebab itu lembutlah hati Soetan Sepedas Padi kepada Soetan Harimau. Tambah pula Soetan Harimau itu banyak ilmunya, jadi Soetan Sepedas Padi-pun bergurulah kepada Soetan Harimau segala ilmu dunia, seperti ilmu kuat dan tahan kuat dan lain-lain. Begitu juga dengan rakyat di Koto Sembahjang Tinggi.

Dalam pada itu maka Soetan Harimau pun terus mengajar ilmu agama Islam, dengan mengerjakan syahadat dan sembahyang lima waktu dan lain-lain perkara agama seberapa bisa pada zaman itu. Mulai pada waktu itulah orang memakai agama Islam di luhak ini, sehingga sampai saat ini.

Kemudian sehabis orang Koto Sembahjang Tinggi masuk agama Islam, maka Soetan Harimau-pun mufakatlah dengan Soetan Sepedas Padi, hendak membuat pegawai agama yaitu;  iman, khatib, bilal dan mungkin  bagi Jum’at. Dan Soetan Sepedas Padi-pun sukalah menerima permufakatan itu. Maka teruslah Soetan Sepedas Padi membuat Iman, Khatib, Bilal dan Moengkin dan orangpun mulailah mengerjakan sembahyang Jumat, di Koto Sembahjang Tinggi. Dalam hal yang demikian Soetan Sepedas Padi-pun tetaplah memerintah di Koto Sembahjang Tinggi. Maka ada Soetan Harimau itu, mencari orang yang belum masuk Islam juga, supaya di-Islam-kan.

Sahdan orang Koto Sembahjang Tinggi-pun menerima mengajari orang yang belum Islam itu. Dan bertambah ramailah juga Koto Sembahjang Tinggi, karena orang datang bertambah-tambah juga pada ketika itu penuhlah Koto Sembahjang Tinggi oleh orang. Maka terbitlah fikiran oleh Soetan Sepedas Padi dengan orang besar-besar dan rakyat di Koto Sembahjang Tinggi, hendak menambah negeri yang agak jauh sedikit dari Koto Sembahjang Tinggi, supaya senang berladang pada hutan  yang lapang. Maka ketika itu putuslah mufakat bahwa Koto Sembahjang Tinggi akan ditinggalkan dan akan membuat negeri empat buah dan akan didirikan orang besarnya empat orang. Dan ditentukan pula orang yang akan mencari tanah untuk negeri yang empat itu.

Menurut keputusan mufakat itu ialah iman akan pergi ke hilir akan mencari tempat negeri itu dan khatib akan pergi ke mudik sampai Rokan. Dan bilal akan masuk Siasam yang sekarang dengan setengah Moengkin. Sehabis itu maka keempat orang itupun berjalan mencari tanah yang akan dibuat negeri itu masing-masing dengan halnya.

Sahdan setelah putuskan permufakatan itu, maka khatib-pun memudikan sungai Rokan dengan perahu bersama dengan kawannya adalah dua tiga orang. Berapa lamanya naiklah kedarat seorang bernama Saidi, tempatnya naik itu ialah seberang sungai kecil yang bermuara ke sungai Rokan yaitu seberang negeri Rokan yang sekarang.

Maka adalah ia membawa seekor anjing naik kedarat itu buat mencari tapak negeri, mana-mana yang akan dijadikan negeri. Setelah sampai didarat anjing itupun menyalak. Apabila didengar oleh Saidi anjingnya itu menjalak, lalu dikejarnya, sampai disitu dlihatnya anjingnya menyalak sepohon kaju yang dinamakan orang Gorkan. Waktu itu berfikirlah Saidi dalam hatinya, kalau begini halnya, baiklah disini dijadikan tapak negeri, karena pada tempat ini adalah tanahnya datar dan baik rupanya. Setelah itu maka Saidi-pun pulang ke negerinya, hendak menyatakan hal itu.

Apabila selesai dipanggilnyalah orang dalam negeri itu, buat menyatakan sepanjang pendapatnya itu. Segala orang dalam negeri itupun sukalah hatinya mendengarkan perkataan Saidi itu. Tidak berapa lamanya dibawalah lagi orang oleh Saidi berapa orang kepada tempat yang diperolehnya itu. Sampai disitu betullah rupanya seperti kata-kata Saidi itu. Karena itu bersuka hatilah orang, dengan menamakan sungai kecil itu sungai Gorkan, sampai sekarang bernama Rokan saja. Dan negeri itu dinamakan orang Koto Rokan Tinggi, karena tanahnya tinggi dari pada tanah yang ada di dekat itu.

Adapun bilal yang tersebut diatas tadi, mula-mulanya ia sejalan dengan khatib tadi, tetapi sampai pada sebuah yang bermuara kepada sungai Rokan sekarang ini, yaitu bernama sungai Siasam masa sekarang, yaitu bernama sungai Siasam masa sekarang. Iapun memudikkan sungai itu sampai pada tempat sungai itu bercabang dua. Disitulah dilihatnya sebatang pohon asam, dengan mengambil buah kayu itu buat dimakannya, tetapi adalah lain sekali buah kayu itu, karena buah kayu yang di sebelah dahan yang satu, betul asam rasanya tetapi yang sebelah lagi manis rasanya. Sebab itu berpikirlah ia dalam hatinya, kalau begitu halnya, baiklah sungai yang sebelah itu kita namai sungai Siasam, karena buah kayu yang di sebelahnya itu asam rasanya. Dan sebelah hulu sungai ini kita buat negeri, dengan kita namai Pilihan, karena buah kayu ini pilih-pilhan rasanya. Karena diulang beberapa kali menyebut itu, karena penyebutan sampai sekarang Pandalian saja, dan sungai yang secabang lagi itu bernama sungai Pandalian. Oleh sebab itu tetaplah sudah disitu akan dibuat tapak negeri, mereka itupun mulailah menebas disitu, sehingga sampai pada suatu rawang. Ditengah rawang itu terlihatlah oleh seorang-orang sebatang tebu, lalu diamil oleh orang itu, tebu itu lalu di makannya. Apabila dilihat oleh kawan-kawannya hal itu, lalu mengambil tebu itu pula, sehingga sampai 7 orang yang memakan tebu itu, dan tebu itupun habislah. Tetapi tebu sudah tentu apabila di ujung itulah yang kurang manisnya, jadi orang yang mendapat penghabisan sekali tidaklah mendapat tebu manis. Oleh sebab itu berkatalah orang yang memakan tebu yang ujung itu; Adapun aku ini mendapat tebu pucuknya, kalau begitu beserta tuan-tuan suka, jadikanlah aku ini Pucuk pula. Setelah didengar oleh orang banyak, sukalah hati mereka itu buat menjadikan orang yang satu itu Pucuk-nya.

Dua tiga hari kemudian daripada itu, berjalanlah lagi seorang orang dengan beberapa kawan-kawannya kepada suatu tempat, dengan bertrmulah orang itu dengan sebuah Goeng, bermufakatlah orang itu , kepada siapakah Goeng itu akan diberikan?

Kesudahnnya putuslah mufakat itu, bahwa Goeng itu baiklah diberikan kepada Pucuk tadi. Samapi ke rumah Pucuk itu, dipalu oranglah Goeng itu. Jadi berbunyilah Goeng itu demikian ngoek ngoek-ngoek ngoek-ngoek ngoek. Sampai sekarang tetaplah nama Goeng itu seperti bunynya, yaitu ngeok ngoek dengan kekal saja lagi Siberoengoek itu disana.

Adapun Mungkin yang tersebut diatas ini, iapun juga memudikan sungai Siasam. Tetapi pada suatu tempat yang ada air berbunyi berdebau-debau, singgahlah ia disitu dengan memandang-mandang kiri dan kanan, sedang ia memandang itu berkatalah kepada kawannya, bahwa tempat itu baik akan tempat membuat kampung. Oleh sebab itu menebaslah segala orang itu, buat dijadikan tapak negeri. Jadi setelah sudah negeri itu,  dinamakan negeri itu Sikebau, karena menurut bunyi air itu.

Adapun imam yang tersebut diatas ini, lebih dahulu sebelum ia berjalan itu, ia berkata-kata dengan Soetan Harimau, menanyakan perjalanan Soetan Harimau itu. Sekalian cerita Soetan Harimau itu fahamlah sudah oleh imam itu sekaliannya. Sudah itu imam pun hilirlah dengan sebuah perahu, sampai ia pada suatu tempat yang ada baik rupa tanahnya dengan datarnya. Disitulah imam itu membuat tapak negeri dengan menebas. Serta negeri itu dinamai Koto Ketjil, karena negeri itu masih kecil saja.

Sahdan pada berapa lamanya telah selesai masing-masing menebas tempat negeri itu, maka sekalian mereka yang tersebut berkampunglah kembali ke Koto Sembahjang Tinggi menghadap Soetan Sepedas Padi. Maka pada ketika itu Soetan Sepedas Padi dengan orang besar-besar, imam khatib sekaliannya bermufakatlah hendak mendirikan Datoek Andiko atau wasir raja empat orang, yaitu:

  • seorang di negeri Rokan, yang dibikin oleh khatib tersebut diatas;
  • seorang untuk di Pandalian;
  • seorang untuk di Sikebau dan;
  • seorang untuk di Koto Ketjil.

Setelah setuju permufaktan itu maka Andiko yang tersebut didirikanlah pada ketika itu oleh Soetan Sepedas Padi, maka yaitu:

  • Di Rokan bergelar Datoek Bendahara Moeda;
  • Di Pandalian bergelar Datoek Bendahara Sakti;
  • Di Sikebau bergelar Datoek Bendahara Radja
  • Di Koto Ketjil bergelar Datoek Bendahara Itam atau Bendahara Moeda.

Sehabis itu orangpun berjamu-jamu makan minum di Koto Sembhjang Tinggi. Kemudian setelah selesai itu jamuan maka orang Koto Sembhjang Tinggi pun pindahlah pada negeri yang empat yang di perbuat oleh Imam, Khatib, Bilal, dan Moengkin yang tersebut diatas.

Hatta maka diceritakan orang pula keadaan dan kelakuan orang-orang Koto Sembhjang Tinggi pada waktu akan bercerai itu, meninggalkan Koto Sembhjang Tinggi, akan pindah pada negeri yang empat yang diperbuat oleh Imam, Khatib, Bilal, dan Moengkin yang tersebut diatas ini, maka pada ketika itu orang Koto Sembhjang Tinggi terlalu huru hara, karena akan berbagi-bagi. Maka segala orang laki-laki dan perempuan semuanya menangis, sehingga bersesak-sesak ke istana segala mereka itu, dengan berimpun-impunlah segala mereka pada suatu kuala sungai kecil, dengan menangis dan menatap jugalah. Dengan takdir Allah jatuhlah kedalam sungai itu satu orang yang membawa gulung tikar, lalu menjadi batu, hingga sampai sekarang ini masih ada batu itu, dinamakan orang Batoe Goeloeng Tikar, dan sungai itu bernama Soengai Peratapan. Karena tempat orang bertapa disitu.

Adapun setengahnya meratap dan menangis pula dengan berpusu-pusu segala orang itu sampai pada suatu sungai kecil yang dinamakan orang Sungai Poesoe. Adapun sebabnya sungai itu sampai sekarang bernama Sungai Poesoe ialah karena itu orang menangis dan meratap hal keadaannya berpusu-pusu kesitu.

Sehabis itu sekalianpun teruslah berjalan masing-masing menuju ke negeri yang di maksutnya. Setengahnya mudik ke Rokan Tinggi, setengahnya lari ke Koto Ketjil, setengahnya mudik ke Pandalian, setengahnya mudik ke Sikerbau. Oleh sebab hal yang demikian, mulai dari zaman yang berbuat sampai sekarang, luhak Rokan ini dinamakan oranglah Rokan IV Koto, sebab empat kota yang mula-mula diperbuat oleh orang Koto Sembhjang Tinggi. Maka datuk koto yang empat itu di samakan hak dan kuasanya dari dahulu sampai sekarang ini.

Adapun orang mula-mula pindah ke negeri Rokan Tinggi, yaitu seberang negeri Rokan yang sekarang ialah:

  1. raja, yaitu Soetan Sepedas Padi dengan ahlinya
  2. suku melayu
  3. suku mais dan mandahiling
  4. suku bendang
  5. suku caniago
  6. suku petopang.

adapun orang yang mula-mula pindah ke negeri Pandalian, yaitu  :

  1. suku petopang
  2. suku mais
  3. suku mandahiling
  4. suku kuti
  5. suku peliang
  6. suku melayu
  7. suku caniago

adapun orang yang mula-mula pindah ke negeri Sikebau, yaitu  :

  1. suku petopang
  2. suku madahiling
  3. suku melayu
  4. suku kuti

adapun orang mula-mula pindah ke negeri Koto Ketjil, yaitu  :

  1. suku melayu
  2. suku mandahilng
  3. suku petopang

tetapi sampai orang yang tiga suku ini ke Koto Ketjil dalam empat atau lima bulan lamanya, maka bertemulah pula dengan kaum orang rupanya, minang sudah berladang-ladang juga disitu.

  1. suku peliang temenggung alam beratus, berladang di Padang Sirajoeng.
  2. suku caniago pihak nenek rangkajo rando berladang di kubu Sopan pada sungai Ngaso.
  3. suku nan seratus berladang di Palamaran di hulu Siki.

Jadi pada seketika itu sekalian orang yang tiga suku yang datang dari Koto Sembhjang Tinggi, bahasa mereka itu akan berkumpul di Koto Ketjil. Jadi pada ketika itu, orang yang tiga suku yang tersebut pindah pula ke Koto Ketjil. Jadilah suku oang di Koto Ketjil enam suku, maka inilah suku Nan Enam di Koto Ketjil.

Sahdan apabila telah siap bertunggu negeri empat yang tersebut diatas ini, maka datuk yang berempat serta tua-tua suku yang tersebut berkumpul kembali menghadap Soetan Sepedas Padi di koto Rokan Tinggi, buat mufakat akan mendirikan penghulu tiap-tiap suku dan hulubalang dan pegawai, yaitu imam, khatib, dan bilal. Sehabis mufakat itu, orang dan suku Sepedas Padi pun mendirikan penghulu pada tiap-tiap suku dalam negeri yang empat dan hulubalang dengan pegawainya, sehingga sampai sekarang ganti berganti, dinegeri yang empat yang tersebut di atas.

Hatta telah selesailah negeri yang empat yang tersebut diatas didirikan oleh penduduknya, maka Soetan Sepedas Padi pun tetaplah memerintah di atas datuk yang berempat, berkedudukan di Koto Rokan Tinggi bersama dengan saudara dan keponakannya yang tersebut pada permulaan buku ini.

Adapun Soetan Harimau turut  juga pindah ke koto Rokan Tinggi bersama  dengan Soetan Sepedas Padi. Sahdan pada waktu itu adalagi satu banjar dalam sungai Pusu yang belum lagi Islam orangnya. Oleh sebab itu maka Soetan Harimau pun bersembahlah kepada Soetan Sepedas Padi hendak pergi ketempat itu. Dan Soetan Sepedas Padi pun izinkan. Sehabi itu Soetan Harimau pun menjalankan ke banjar itu dengan tiga orang kawannya. Sesampai Soetan Harimau pada banjar itu, Soetan Harimau pun terus memasukkan orang kepada agama Isalam. Kemudian daripada itu Soetan Harimau pun berjalan juga mengilirkan dan memudikan sungai Pusu itu, mencari orang yang belum Islam, rupanya tiada lagi. Oleh sebab itu Soetan Harimau bertemu dengan suatu sungai yang kecil dan berkuala pada sungai Pusu itu, sebelah kiri mudik. Dengan memudikkan itu sungai kira-kira satu tanjung, Soetan Harimau pun lalu naik kedarat dengan membawa satu bilah senjata namanya lembing dan satu tasbih. Kira-kira delapan depa Soetan Harimau kedarat, Soetan Harimau pun sembahyang pada tempat itu. Dalam sembahyang itu Soetan Harimau pun gaiblah  pada tepat itu.

Akan senjata dan tasbih yang di bawanya itu, tinggalah pada tempat itu. Dengan sebab itu heranlah mereka-mereka tadi, serta di carinya sekeliling tempat itu tiada bertemu lagi. Sehabis itu maka kawan-kawannya itupun terus kembali ke koto Rokan Tinggi, serta di sebarkannya kabar itu kepada Soetan Sepeadas Padi.

Arkian maka kembalilah kepada Soetan Sepeadas Padi yang memerintah di koto Rokan Tinggi serta dengan negeri yang empat. Tiada berapa lamanya, Soetan Sepeadas Padi pun sakit lalu meninggal. Maka tinggalah keponakan laki-laki yanng bernama Sialam saudaranya  Sitti Intan dan dua keponakannya perempuan telah berumur kira-kira 23 tahun, ialah yang tinggal memerintah di koto Rokan Tinggi. Adapun Soetan Sepeadas Padi kabarnya memerintah ada kira-kira 53 tahun baru berpulang kerahmatulloh. Maka tersebutlah negeri koto kecil akan di ubah namanya dengan negeri Lubuk Bendahara.

Telah 4 atau 5 bulan lamanya negeri koto Ketjil telah di diami orang pada suatu hari, maka pergilah bini Datoek Bendahara itu mandi pada pangkalannya dengan membawa seorang anaknya. Tiba pada pangkalan itu, terlihat olehnya pada tepi air itu sehelai tikar. Sebentar itu juga di letaknya anaknya pada tikar itu, serta iapun mandi dan berenang dan menyelam-nyelam sedang ia mandi itu, anaknya itupun rupanya sudah hilang dibawa oleh tikar tadi. Taulah ia bahwa yang tadi bukan tikar, hanyalah seekor ular yang bernama Ular Bidai.

Setelah berkumpulah orang sekalian mencari anaknya itu, tetapi tiada dapat. Oleh sebab itu, maka negeri Koto Ketjil  beralih nama menjadi Loeboek Bendahara, karena anak Datuk Bendahara hilang dibawa oleh ular Bidai tadi kedalam lubuk pada pangkalan Datuk Bendahara itu.

Demikianlah halnya Luhak Rokan dalam diperintahkan oleh Soetan Sepeadas Padi yang meninggal di Koto Rokan Tinggi.

 

Sumber: https://ajiramiazawa.wordpress.com
(Visited 15 times, 1 visits today)

Leave a Reply