Inilah
Buku Curai Paparan,
Asal Usul Raja dan Hamba Rakyat
Luhak Rokan IV Koto dari dahulu
Sehingga sampai sekarang ini adanya.
Maka dalam buku ini ada terbagi atas beberapa bagi,
Maka tiap-tiap satu bagian, ialah satu tinggang Raja
Yang memerintah Kerajaan Luhak Rokan IV Koto,
Seperti yang akan datang sebutannya.
Terkarang oleh Kita YANG DIPERTUAN AGUNG SAKTI,
Nama IBARAHIM Raja Kerajaan Luhak Rokan IV Koto,
Dan Seorang Menteri Kita, yaitu; Datuk Perdana Menteri
Kepala Kerapatan ROKAN.
Tahun 1921

 

Salinan ini dari awal sampai tamat ditulis dalam ejaan lama yang belum disempurnakan, yaitu dengan mengggunakan ejaan latin yang dipakai pada Zaman Belanda.

Tulisan ini disalin kembali oleh FACHRIE ABD MALIK sebagai Bahagian Urusan Sosial Politik Kantor Camat Rokan IV Koto pada tanggal 25 Nopember 1991.

Untuk memudahkan membaca dan mudah dimengerti, sengaja ditulis dalam ejaan yang disempurnakan (EYD). Akan tetapi kalimat yang digunakan tetap asli. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi semua pihak yang memerlukannya dikemudian hari.

 

Alkisah maka adalah dahulunya Luhak Rokan IV Koto ini yaitu pada zaman 5,5 abad yang telah lalu maka air laut belum begitu kering betul, masih ada lagi danau-danau yang besar-besar maka zaman itu, Luhak ini ada didiami oleh orang bangsa Sakai Rai’at.

Maka segala Sakai-sakai itu ada membuat kampong pada tanah dan bukit yang tinggi-tinggi saja.

  1. Kampung Tinjau Laut, diatas Batu Bulan, letaknya antara Rokan dan Lubuk Bendahara sekarang.
  2. Kampung Koto Berhala, letaknya antara Rokan dan Muara Tibawan sekarang.
  3. Kampung Parit Batu, letaknya di hulu Siki, hampiran Lubuk Bendahara sekarang.
  4. Kampung Bukit Kinajang, letaknya sebelah mudik Lubuk Bendahara sekarang.

Tetapi segala Sakai Rai’at (rakyat) yang berkampung-kampung yang tersebut diatas, tidak ada rajanya, hanyalah Tua-tua dalam tiap-tiap kampung saja.

Sahdan kemudia dari itu, adalah kira-kira 4,5 abad yang telah lalu, adalah seorang Raja perempuan bergelar Poeteri Sangkar Boelan, diam di Koto Benio Tinggi, koto itu letaknya dalam Afdeling Lubuk Sikaping sekarang.

Maka Poeteri Sangkar Boelan itu ada mengadakan Putra banyaknya 7 (tujuh) orang, 6 (enam) laki-laki dan 1 (satu) perempuan, dan tuanya laki-laki nama Djoelat Djaronsjah bergelar Soetan Seri Alam. Dalam beberapa lamanya, maka segala anak raja itupun telah besar-besar, maka anaknya yang tua Djoelat Djaronsjah yang bergelar Soetan Seri Alam itu, kabarnya terlalu gagah dan jahat. Oleh sebab itu maka segala saudara-saudaranyapun benci padanya.

Maka dengan sebab itu, Soetan Seri Alam terus merajuk lalu pergi berjalan meninggalkan negeri, diiringi oleh beberapa hamba rakyat dalam negeri itu laki-laki dan perempuan, kabarnya ada kira-kira 30 kelamin, maka Soetan Seri Alam pun beserta pula dengan istrinya.

Adapun Luhak Rokan IV Koto ini pada zaman itu, sepanjang kabarnya adalah sedikit kering, tetapi sungai Rokan ini dalamnya waktu itu ada kira-kira 35 meter, menurut bekas air pada Batu Bulan dimana koto Batu Bulan sekarang. (tepatnya dihilir Dusun Rantau Upih dimudik Dusun Pokobuk Desa Tanjung Medan).

Selanjutnya ditulis terpisah..

 

Sumber: https://ajiramiazawa.wordpress.com
(Visited 187 times, 1 visits today)

Leave a Reply